Dari Kota ke Pulau: Pengalaman Tak Terlupakan di Pulau Rote

Ini adalah kisah tentang pengabdian masyarakat pertamaku, yang penuh dengan drama terutama sebelum keberangkatan. Setelah melalui berbagai seleksi di beberapa NGO (Non-Governmental Organization), akhirnya aku berhasil sebagai delegasi fully funded dari salah satu NGO. Meski demikian, aku menghadapi kendala perijinan saat hendak berangkat, karena keluarga meragukan legalitas kegiatan ini. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya aku mendapat ijin. Bahagia? Tentu saja. Semua biaya ditanggung, dan aku bisa mewujudkan salah satu impianku, mengikuti pengabdian masyarakat setelah lulus kuliah.
Perjalanan dimulai dari tempat tinggalku menuju Bandara Juanda. Ketika aku tiba, tim belum berkumpul. Perasaan campur aduk antara senang dan takut karena ini menjadi pengalaman pertama. Tak lama kemudian, seluruh tim tiba dan kami berangkat menuju Bandara El Tari Kupang. Sampai di Kupang setelah melalui perjalanan udara sekitar 2 jam, kami menuju penginapan karena kapal penyeberangan ke Pulau Rote baru tersedia keesokan harinya. Di penginapan, kami juga bertemu dengan tim yang berangkat dari Bandara Soekarno Hatta. Kami sempat mengeksplorasi beberapa wisata terkenal di Kupang, menikmati suasana sore dan senja yang menakjubkan. Syukur tiada henti atas keindahan pulau ini. Kami juga mempererat hubungan antar tim. Malam harinya, kami mengadakan rapat persiapan kegiatan, kebetulan aku berada di divisi kesehatan dan menjadi koordinator divisi tersebut.
Keesokan harinya, kami berangkat menuju Pelabuhan Tenau untuk menyeberang ke Pulau Rote, pulau paling ujung Timur Indonesia yang berbatasan dengan Australia. Kami terombang-ambing di kapal selama dua jam dengan ombak besar yang membuat perut kami terasa terkoyak. Perasaan campur aduk: deg-degan, senang, dan bangga. Perjalanan dilanjutkan dengan mini bus menuju lokasi pengabdian, sambil menikmati pemandangan dan makan siang di beberapa destinasi. Kami tiba di lokasi sore hari, lalu bersih-bersih dan mempersiapkan perlengkapan untuk kegiatan besok pagi, makan malam bersama, dan melakukan acara kecil-kecilan untuk mempererat kebersamaan kita sebelum terjun berkegiatan besok pagi.
Tidak hanya melakukan pengabdian dan memberikan manfaat bagi masyarakat, tapi kami juga berkesempatan mendapatkan banyak ilmu dan pembelajaran dari kegiatan ini. Kami berkesempatan mengenal orang baru, budaya baru, terutama alat musik tradisional sasando. Bertemu dengan tetua adat pemain sasando dan mendengarkan alat musik tersebut langsung di pulaunya adalah pengalaman yang tak terlupakan.
Ini adalah perjalanan pertamaku ke tempat yang sangat jauh dengan hubungan tercepat yang terjalin dengan orang asing, serta banyak manfaat yang sulit dijelaskan namun akan selalu terkenang. Terima kasih Rote, terima kasih masyarakat Rote. Pengalaman ini sangat luar biasa dan membuatku jatuh cinta.

Komentar

Postingan Populer