Pendidikan Ga Penting? Baca Buku Ga Penting?

7 Desember 2025, aku berkesempatan mengikuti kegiatan di Sekolah Alam Sobyor. Senang sekali ketika tahu ternyata temanku adalah salah satu pengembang sekolah ini dan aku diberi kesempatan buat ikutan belajar. Kesempatan pertama yang rasanya sayang banget buat dilewatkan.

Sekolah ini punya konsep yang menurutku sangat menarik. Anak-anak nggak cuma diajarkan soal alam, tapi juga perkembangan mereka dievaluasi secara menyeluruh. Saat menunggu proses belajar dimulai, aku bertemu dengan seorang ibu yang mengantar anaknya untuk belajar disini. Kami sempat berkenalan singkat dan aku benar-benar terkesan dengan penampilannya yang artsy dan unik.

Ketika kegiatan dimulai, ada satu hal yang membuat aku semakin kagum. Materi hari itu membahas tentang “Ekosistem dan Rantai Makanan.” Anak yang tadi diantar ibunya itu benar-benar mencuri perhatian. Salah satu kakak pembimbing bertanya, “Bagaimana kamu bisa tahu hewan ini?” Anak itu menjawab dengan semangat, “Aku baca dari komik.” Dia juga aktif banget menjawab pertanyaan-pertanyaan selama diskusi, ceria dan penuh antusiasme.

Aku penasaran dan mencoba menggali sedikit informasi tentang anak ini. Ternyata, usianya baru sekitar lima tahun dan orang tuanya adalah penggiat seni (mungkin istilahnya begitu). Anak ini sempat cerita kalau bersekolah di rumah (homeschooling) dan gak lama setelah itu, ayahnya juga datang ikut mendampingi belajar. Dari pengalaman ini, aku jadi semakin yakin bahwa peran orang tua, pendidikan yang tepat, dan fasilitas pendukung sangat berpengaruh dan saling melengkapi dalam perkembangan seorang anak.

Judul “Pendidikan Ga Penting? Baca Buku Ga Penting?” mungkin terdengar provokatif, tapi setelah melalui kegiatan ini aku benar-benar memahami bahwa pendidikan itu sangat penting—bukan hanya dari buku pelajaran formal atau pelajaran resmi di sekolah, tapi juga dari pengalaman belajar yang beragam, termasuk kegiatan di luar kelas dan membaca. Membaca juga bukan sekadar kebiasaan atau hobi, tapi jembatan pengetahuan yang bisa membuka dunia anak tapi jembatan untuk mengenal dunia dan mengembangkan rasa ingin tahu anak. Melihat anak kecil yang penuh semangat membuktikan bahwa belajar bisa jadi hal yang menyenangkan dan berdaya guna, asalkan didukung lingkungan yang positif.

Secara pribadi, pengalaman ini juga membuatku merenung tentang cara pandangku terhadap pendidikan. Kadang aku merasa belajar hanya sebatas kewajiban atau rutinitas yang harus dijalani. Tapi melihat semangat anak kecil ini dan adanya dukungan penuh dari orang tua, aku sadar bahwa pendidikan harus jadi sesuatu yang menyenangkan dan bermakna. Kalau lingkungan dan orang-orang di sekitar bisa memberikan ruang eksplorasi dan dukungan, anak-anak bisa berkembang secara maksimal dengan caranya sendiri.

Jadi, jangan pernah anggap remeh peran pendidikan dan membaca. Keduanya gak hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga karakter dan potensi anak. Dan yang nggak kalah penting, kehadiran dan dukungan orang tua menjadi fondasi utama agar semuanya bisa berjalan dengan baik dan berkelanjutan.


Komentar

Postingan Populer