Cerita dari Kupang: Pertemuan Pertama dengan Kosambi

Selalu ada yang pertama kali dalam hidup, mungkin itulah kalimat yang menggambarkan awal tahun 2023 sekaligus menjadi petualangan pertama dengan jarak paling jauh bagiku. Siapa sangka, setelah lulus kuliah profesi, aku bisa menginjakkan kaki di wilayah paling selatan Indonesia. Sebelum menyebrang ke Pulau Rote kami – aku dan teman-teman volunteer – berlabuh di Kupang karena jadwal keberangkatan kapal masih di hari berikutnya. Kami sempatkan untuk explore sedikit di Kupang. Dimulai dari padang rumput hijau yang indah, Bukit Cinta. Hamparan sabana yang luas ini memang tidak bisa dilewatkan untuk berfoto. Sayangnya kami tidak bisa datang pada sore hari karena waktu yang sangat terbatas, padahal menurut beberapa review sunset di bukit ini sangat menakjubkan.

Setelah kehabisan gaya berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi kedua yang memiliki air jernih kebiruan, Pantai Baliana. Kalau aku melihat foto-foto dan penjelasan dari google, pantai ini memiliki hamparan pasir putih dan jajaran batu karang. Sayangnya, pada saat kami kesana air sedang pasang sehingga hanya bisa menikmati dari atas karang. Hati-hati karena karang-karang disana cukup tajam.
Sepulang dari Pantai Baliana untuk menuju destinasi terakhir, mobil yang kami tumpangi kesulitan untuk putar balik karena jalan yang menurun dan sangat sempit hingga agak terperosok. Untungnya kondisi pantai saat itu sangat ramai dan pemuda-pemuda disana membantu mendorong mobil kami. Kami para wanita yang sedang asyik menonton mobil didorong, sontak menoleh ketika salah seorang teman tiba-tiba nyeletuk “itu buah apa bang?”. Ternyata ia sedang mengamati pemuda-pemuda yang memanjat pohon dan memakan suatu buah. Salah seorang pemuda menghampiri kami dan memberikan beberapa buah di tangannya sambil berkata “Kosambi”.

Buah yang tidak pernah aku temui bahkan ku coba sebelumnya. Beberapa temanku mencoba buah tersebut, tidak denganku karena menunggu review dari mereka. Salah seorang pemuda lain memperingatkan bahwa buah tersebut rasanya sangat asam saat belum matang. Terlambat, teman-temanku sudah memakannya dan coba bayangkan ekspresi mereka. Tapi bukan itu yang lucu, salah seorang temanku yang sudah memakannya berusaha menampakkan ekspresi biasa saja sambil mengatakan “nggak kok, nggak asam”, padahal kami tahu ia sedang menahan rasa asam dan kami hanya tertawa. Membahas tentang buah ini, aku memberanikan diri untuk mencobanya ketika sudah berada di Rote. Bentuk dan teksturnya mirip kelengkeng, hanya berbeda tekstur kulit luarnya. Daging buahnya berwarna orange, terdapat biji didalamnya yang persis dengan kelengkeng, dan apabila dalam kondisi masak rasanya manis, sedikit asam, dan segar. Aromanya persis dengan kedondong. Semoga bisa terbayang.

Tidak butuh waktu lama, mobil kami sudah aman. Setelah mengucapkan terimakasih pada pemuda-pemuda yang membantu kami, perjalanan berlanjut menuju destinasi terakhir dengan view laut dan dermaga dari atas, Tebing Bar and CafĂ©. Kondisi saat sampai disana sangat sedikit pengunjung sehingga kami bisa lebih leluasa memilih tempat duduk. Angin sepoi-sepoi, kapal yang berlalu-lalang, hamparan laut, dan senja yang cantik walaupun agak sedikit mendung adalah kombinasi yang sempurna dalam 
menghadirkan suasana yang menenangkan, mengingatkan kita bahwa keindahan sederhana sering kali adalah yang paling bermakna.

Komentar

Postingan Populer